Kenali Fungsi, Unsur Kimia dan Cara Kerja Kafein yang Terkandung dalam Kopi

kandungan kafein dalam kopi 1024x480 » Kenali Fungsi, Unsur Kimia dan Cara Kerja Kafein yang Terkandung dalam Kopi

Bila kita berbicara tentang kopi maka tidak akan terlepas dari pembicaraan tentang kafein. Karena kafein merupakan senyawa terpenting yang sudah dikenal terkandung di dalam biji kopi. Di dalam biji kopi terdapat senyawa terpenting yakni kafein dan kaffeol. Perbedaan kedua senyawa di dalam biji kopi ini adalah bila kafein lebih berfungsi sebagai perangsang dan digunakan sebagai zat untuk mendorong stamina tubuh, sementara kaffeol berfungsi sebagai unsur flavor atau zat yang dapat membentuk cita rasa kopi.

Unsur kafein di dalam kopi akan berubah menjadi kaffeol bila biji kopi dipanaskan tanpa minyak atau disangrai. Perubahan kafein menjadi kaffeol saat penyangraian kopi terjadi melalui proses sublimasi.

Fungsi Kafein

Kafein mempunyai efek-efek fisiologis dan psikologis bagi tubuh manusia. Efek-efek ini bisa positif dan bisa negatif tergantung kadar penggunaannya pada tubuh. Bila kadar penggunaan kafein terlalu besar atau terlalu tinggi bagi seseorang mungkin akan berdampak negatif seperti jantung berdebar kencang dan meningkatkan tekanan darah. Namun bagi sebagian orang penggunaan kafein di dalam kopi dalam dosis yang cukup akan memberikan manfaat untuk meningkatkan stamina dan lainnya.

kandungan kafein dalam kopi » Kenali Fungsi, Unsur Kimia dan Cara Kerja Kafein yang Terkandung dalam Kopi

Berikut ini beberapa fungsi utama senyawa kafein di dalam kopi bagi tubuh manusia, diantaranya:

  1. Kafein merupakan senyawa yang terkandung di dalam biji kopi yang bisa digunakan untuk merangsang kerja jantung.
  2. Kafein berfungsi untuk meningkatkan produksi urin.
  3. Fungsi yang umum dari kafein dalam biji kopi yang diracik dengan kadar yang rendah berfungsi untuk meningkatkan stamina. Peningkatan stamina sering dibutuhkan oleh para pekerja keras, orang-orang yang membutuhkan fokus yang tinggi dan para atlet yang membutuhkan stamina ekstra.
  4. Kafein di dalam biji kopi bisa digunakan sebagai penghilag rasa sakit.

Unsur Kimia Kafein

  1. Kafein di dalam kopi ditinjau dari sisi kimia merupakan alkaloid xantin dengan berat molekul sebesar 194,9.
  2. Rumus kimia kafein adalah C8H10N8O2, dan pH nya 6,9 dalam bentuk larutan kafein 1% dalam air. Friedrich Ferdinand Runge, seorang kimiawan Jerman menemukan senyawa kafein ini pada tahun 1819. Kafein dalam bentuknya yang murni ditemukan sebagai kristal dengan bentuk tepung putih. Secara kimiawi Kristal kafein ini mengikat satu molekul air. Ketika dalam kondisi air yang mendidih maka Kristal kafein dapat larut dalam air tersebut. Kristal kafein sendiri bisa mencair pada suhu antara 235 ͦ C – 237 ͦ C dan menyublim pada suhu sebesar 176 ͦ C.
  3. Kafein yang terdapat di dalam biji kopi berbentuk ikatan antara kalium kafein klorogenat dan asam klorogenat. Ketika dimasukan air panas maka ikatan tersebut akan terlepas, hal ini menyebabkan kafein bisa diserap dengan cepat oleh tubuh.
  4. Niasin, Niasin adalah sejenis vitamin yang termasuk kelompok vitamin B. Niasin terbentuk ketika biji kopi disangrai maka trigonellin yang terdapat pada biji kopi akan berubah menjadi niasin atau asam nikotinat⁽¹⁾.

Cara Kerja Kafein

  • Di dalam tubuh terdapat senyawa dalam sel otak yang bisa membuat orang cepat tertidur. Mekanisme kerja kafein di dalam kopi adalah mengimbangi fungsi adenosin dan membalikkan kinerja adenosin sehingga berdampak pada hilangnya rasa kantuk pada seseorang dan mata akan terbuka lebar.
  • Efek lain dari kinerja kafein dalam tubuh adalah memunculkan kesegaran tubuh dan kegembiraan, disertai dengan detak jantung yang mengencang, naiknya tekanan darah dan otot-otot akan berkontraksi.
  • Efek kafein di dalam kopi yang berhubungan dengan pembentukan energi ekstra adalah hati akan melepas gula ke dalam aliran darah. Gula inilah yang akan membentuk energi ekstra. Hal ini sering digunakan dalam pembuatan minuman suplemen energi atau minuman pembangkit stamina dimana bahan utamanya adalah kafein⁽²⁾.

 

Referensi:

⁽¹⁾ Mahendradatta, 2007.

⁽²⁾ Suriani, 1997.

Artikel Terkait: